Minggu, 01 Maret 2009

Pengakuan: Aku Ikan Sapu-Sapu yg Nyasar di Daratan

Aku ngaku selama liburan ini di rumah waktu buat ibadah lebih sedikit daripada ketika aku di Semarang (Hehehe...liburan udah selesai baru ngaku). Satu contoh ketika di rumah aku sholat berjamaah cuman maghrib dan isya. Shubuh aja malah kadang rebutan sama matahari buat "setor" ibadah di hadapan Alloh. Setelah sholat kualitas zikir pun berkurang gak seperti biasanya. Ini yg paling aku resahkan. Mungkin gara2 kurangnya meng-upgrade diri dgn liqo', mentoring, dan kajian2 sejenisnya. Biasanya sih liqo', mentoring, dan kajian2 seperti itu aku dapet di kampus, kost kontrakan, dan banyak tempat yg lain. Jadinya aku ngerasa keimanan ini mengalami eskalasi (ceilee bahasanya) yg signifikan, kadang naik, kadang jatoh bebas.

Jadilah aku sekarang ngebikin sebuah pengakuan. Mungkin karena kurangnya aku "mengingat Rabb-ku" yg begitu cethek aku jadi ngerasa seperti gak begitu nyaman dgn diriku sekarang. Liburan ini setiap pagi aku ngerasain kurang begitu bergairah. Kayanya agak susah gitu, memotivasi diri buat diri sendiri ketika di rumah. Baru waktu sholat ashar tadi, Sang Kuasa sedang membangunkanku dan mengajakku untuk lebih "intim" lagi dengan-Nya. Abis sholat ashar tadi begitu aku zikir...

Ya Alloh...hati ini bergetar, jantung ini terpacu begitu kencang, mataku berkaca2 dan aku sesengukan dgn bibir bergetar kala "ingat" Sang Penciptaku. Sebulan ini, selama libur ini, begitu lama aku "tidur". Aku inget kalimat yg pas dgn keadaanku saat ini, kurang lebih seperti ini : "Dzikir bagi manusia bagaikan ikan mas yg ada di kolam, jika ikan itu dikeluarkan dari kolam, apa yg akan terjadi?" Aku jauh dari dzikir dan aku ikan sapu-sapu.

Aku mencoba meresapi (lagi) makna tasbih, tahmid dan tahlil yg selalu didengung2kan seabiz sholat itu. Aku kira ajaran seperti ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam ajaran agama yang lain.

Subhanallah (Maha Suci Alloh)
Manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati kamu akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain. Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Alloh)
Aku ngebuktikan sendiri statement ini bahwa orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan rasa syukur dalam situasi apapun. Apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.

Allahu Akbar (Alloh Maha Besar)
Kamu akan ngerasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang. Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini bolehlah kamu anggap sebagai hal yang ''agak besar.'' Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.

Dan ternyata biang korek, eh biang kerok semua ini adalah aku sendiri. Kenapa aku gak nyaman dgn diriku sendiri karena aku ikan sapu-sapu yg nyasar di daratan. .

0 comments:

Posting Komentar

Tolong, biarkan aku mencarimu...

Happy Couple

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers