Rabu, 30 September 2009

Menyikapi Kedatangan Maria Ozawa

Hari itu gak biasanya aku melewati pagi dengan nonton infotainment. Aku terbatuk-batuk hampir tersedak kopi pagiku ketika melihat berita kedatangan miyabi (nama aslinya maria ozawa) ke Indonesia. Tepatnya dari tanggal 15-22 Oktober (okezone, 16 September 2009) Men, seorang bintang porno Jepang akan main film di Indonesia. Ibu dan adikku yang juga nonton bilang kalo dia cantik, tapi ya itu....

Alasan maria ozawa datang ke Indonesia selain tawaran uangnya adalah dia suka main film yang bercerita (okezone, September 2009). Alamak, perasaan semua film itu ada ceritanya deh, bahkan film porno itu sendiri. Meskipun aku bukan dan berharap jangan sampe menjadi penonton film begituan, kukira semua orang tahu itu.

Yang bikin aku semakin kaget adalah hampir semua berita yang kudapat banyak orang yang "wellcome" sama dia. Dari artis sampe Menkominfo pun mempersilahkan maria ozawa datang ke Indonesia (Yahoonews, 27 September 2007). Sepertinya yang santer kedengeran baru MUI yang menyatakan penolakan kedatangan bintang porno itu (wah sepertinya kalah suporter nih MUI)

Maria ozawa akan main film "Menculik Miyabi". Penulis script-nya Raditya Dika, dia berkomentar tentang kontroversi yang timbul di masyarakat bahwa dia mengajak orang ngeliat seorang miyabi bukan sebagai bintang porno. Penonton yang ingin ngeliat miyabi telanjang udah pasti bakalan kecewa karena gak ada adegan telanjang sama sekali, begitu ungkapnya.

Aku bilang, dia gagal dengan misinya itu. I mean, okelah dia gak vulgar di film itu. Kupikir semakin banyak orang tahu siapa miyabi ini. Semula orang gak tahu jadi tahu, yang udah tahu semakin gila kali. Aku pikir gak semua orang akan puas hanya dengan ngeliat miyabi main film “baik-baik”. Beberapa diantara mereka (cowok tentu saja), akan surfing ke dunia maya untuk ngeliat miyabi “berakting” di bidang yang membuat namanya besar.

Coba main ke mbah google atau mesin pencari lainnya. Search engine yang ada akan menyimpan abadi kata-kata kunci “miyabi”, “maria ozawa”, atau apalah itu sebagai perintah untuk membawa kita ke situs-situs nakal.

Aku tahu tidak semua orang seperti itu. Tapi disini aku ngeliat dari sisi cyber dimana kau bisa mendapatkan jawaban yang kau inginkan di internet. Kalian tahulah yang kumaksud. Ini sangat meresahkan, pergaulan kita mau dibawa kemana?? Ide mendatangkan miyabi itu adalah ide yang sakit.

Sabtu, 26 September 2009

Tentang PKM-ku

Hari-hari ini dan ke depan adalah hari bulan maduku dengan kertas dan monitor komputer (ada gak ya, perumpamaan yang lebih lebay dari ini??). Proposal PKM Penelitian dan PKM Kewirausahaan 3 oktober besok harus sudah dimasukkan ke rektorat. Progress proposalku secepat bocah kemarin sore yang lagi belajar merangkak, gak selesai-selesai. Dan itu artinya, aku harus ngebut dan bocah itu terpaksa menggunakan NOS biar merangkak cepat (hallo! siapapun disana! ada perumpamaan yang lebih baik dari ini? Help Me, My Brain was overloaded!)

Why I am so excited? DirJen Pendidikan Tinggi memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa seluruh Indonesia yang ingin memperluas dan mengaplikasikan pengetahuannya melalui bidang kegiatan penelitian, penerapan teknologi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, bahkan gagasan-gagasan. Kita diminta membuat proposal tentang bidang apa yang ingin kita kerjakan. Proposal kita dihargai maksimal 10 juta untuk tiap usulan. I think it's freakin' cool.

Aku mau mengajukan 3 judul, 2 diantaranya sudah mencapai 85% dan satunya masih tersimpan rapi di kepala. Sedikit cerita tentang apa yang aku usulkan, mungkin bisa menambah wawasan buat kalian. 

-= Kopi Tanpa Kafein =-
Ide merekayasa kopi yang bebas kafein ini memang pure dari aku sendiri. I'm coffee addict and caffein make all the thing going bad. Aku ingin ketika meminum secangkir kopi tanpa harus sering ke belakang buat pipis dan tak harus merasakan jantung yang berdegup kencang.  


Selama ini banyak yang mengusahakannya dengan menggunakan uap panas (steam), tapi ternyata ketika diseduh, aroma dan cita rasa kopi itu juga ikutan lenyap. Aku mencoba memodifikasi pelarut yang digunakan untuk mengekstrak (gampangnya, mengambil) kafein dari biji kopi menggunakan pelarut organik, tentunya yang mudah didapat agar semua orang bisa melakukannya. Ini usulan kegiatan penelitianku.

-= Jelly Rumput Laut =-
Minuman jelly yang beredar di pasaran, ternyata masih menggunakan senyawa kimia. Bersama teman-teman lain, kita mencoba berbisnis jelly rumput laut. Rumput laut itu memiliki kandungan serat yang tinggi juga mempunyai senyawa yang mencegah timbulnya kanker. Selenium dan seng dapat mereduksi level estrogen dalam tubuh, karena jika kadar estrogen yang terlalu tinggi bisa berpotensi kanker. Satu lagi, karbohidrat yang membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dicerna dalam tubuh membuat rumput laut menjadi makanan penunda lapar.

Cuma selayang pandang tentang apa yang membuatku begitu excited akhir-akhir ini. Aku juga gak ingin menjadikan blog ini sebagai website farmasi atau kesehatan apalagi website gizi. Maaf, juga lagi gak kekurangan gizi. 

Sabtu, 19 September 2009

At The End of Ramadhan

Sebenarnya sudah begitu terlambat membagi tulisan ini, tapi tak apalah mumpung Ramadhan masih menyisakan hari ini saja.Hehe...

Hari ini puasa kita yang terakhir. Lalu pertanyaan ini muncul, Sudahkan puasa Ramadhan tahun ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik? Sudah kelihatan hasilnya? Apa saja? Setiap orang punya jawaban tersendiri, termasuk aku sendiri.

Aku membuat analogi puasa satu bulan ini sebagai proyek pembangunan untuk membuat manusia taqwa. Kita cuma diberi waktu satu bulan mengerjakannya. Dan ini sudah hari ke-29, layaknya sebuah proyek, sudah kelihatan bentuk bangunannya atau malah sudah jadi tinggal finishingnya. Sebuah proyek yang gagal manakala pondasi bangunannya belum dibangun hingga sekarang atau parahnya sudah hari-hari terakhir seperti ini masih ngukur-ngukur tanah melulu, gak kerja-kerja. Sangat rugi besar dan bakalan bangkrut tuh pemilik proyek.

Lantas, ketika besok hari kemenangan itu tiba dan banyak sekali aku mendapatkan sms-sms yang berisi ucapan selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, semoga amal kita selama di bulan Ramadhan ini mendapat ridho Alloh, dan macam macam. Dan tanpa mengurangi nilai kemuliaan Idul Fitri dimana kita menjadi manusia yang kembali fitri, ada sesuatu yang salah tetapi menjadi kaprah di sekeliling kita.

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin. Ada yang menganggap bahwa arti dari bahasa arab diatas adalah mohon maaf lahir dan batin. Ini sudah salah kaprah.
Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal ‘aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”.



Ucapan ini begitu akrab di telinga kita ketika ucapan-ucapan tersebut hadir ketika kita bersilaturahim, di koran, spanduk, dll. Seakan ucapan selamat ini milik semua orang. Di mataku hal ini begitu absurd. Sama halnya ketika aku memakai baju jelek yang udah dipake bertahun-tahun dan seseorang menyelamatiku,

"Selamat ya baju baru, nih!".
Aku hanya tersenyum kecut sambil membatin,
"Baju Baru dari Ethiopia! Kayanya kamu harus memeriksakan matamu yang sakit itu deh."

Apakah semua orang berhasil membangun taqwa mereka selama Ramadhan ini? Of course, not. Proyeknya aja belum jadi, gimana gak ngerasa terhina ketika kita mendapat ucapan Minal Aidin Wal Faizin. Yeah, that is my point of view.

Mungkin lebih bijak kalau kita sama-sama mendoakan dengan mengucapkan, “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”. Karena disana terkandung pula sebuah do'a dan pengharapan bagi terkabulnya segala ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Ketika kita diberi ucapan seperti itu, lantas kita mengucapkan
Taqabbalallahu Ya Karim.

Bukan maksud untuk menggurui dan riya', tetapi di hari terakhir kita berpuasa ini semoga masih terus berinstropeksi diri dan jangan bereuforia terlalu berlebih alias lebay.com di hari idul Fitri besok.

P.S. :
“Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” ya teman-teman. Banyak khilaf dan salah yang aku lakukan.

Minggu, 13 September 2009

Tugas Kewirausahaan Ini...



Sekarang aku lagi banyak ngerjain tugas kuliah dan nyusun PKM dari Dikti. Jadi aktivitas ngeblogku terbatas ngepost note dan twitter-an. Tugas menjelang lebaran ini lumayan numpuk, salah satunya ini tugas kewirausahaan. Tugasnya membuat cita-cita, tujuan hidup, visi misi, atau apalah itu yang akan kamu lakukan di masa depan.


Deadlinenya kemarin jam 00:00 (katanya temenku sih) dan aku ngerjain 3 jam tepat sebelum deadline. Dan tahu sendiri spontanitasku pun muncul dalam proses kreatif itu, hehe...The Power of Deadline makes me excited.

Ada salah satu cita-citaku yang kutulis disana, berwirausaha mendirikan bisnis bus pariwisata. You know why, karena aku tergila-gila ama yang namanya bus. Bus-bus malam yang executif, super top, yang karoserinya masih kinclong dan suspensi angin. Hehehe believe it??

Udah dulu frenz, nyambung lagi ntar, masih banyak tugas dan deadline-nya besok...besok...BESOOOKK!!! Kyaaaaaa!!!

Minggu, 06 September 2009

Falling In Love Doesn't Make You Telephatic

Judul di atas terinspirasi dari Quantum Learning. Apa yang ditulis disana rasanya ada yang klop dengan sebagian dari apa yang aku pikirkan.

I'm in love right now and we're hoping connected each other. But, I won't be telepathic unless i fall in love.

Apakah kamu percaya hukum tarik menarik kawan? Hukum aksi reaksi dimana aksi yang kita lakukan pasti mendapat reaksi dari lawan kita. Kadang itulah yang membuat chemistry itu tercipta. Alangkah lucunya ketika komunikasi hanya bermedia ekspektasi masing-masing tanpa menggunakan bahasa verbal. Tapi susah direalisasikan ternyata, haha...

-= Love is about telepathy =-

I have noticed that sometimes I hope and wait for, in this case "she" (note that, "she" not "he", dare you!) some of it, i expect sometimes it could be too hard to her to know what i want. 

Misalnya, ketika kita sedang berdua di kampus dan orang-orang melihat suatu kedekatan yang tak biasa itu membuatku tak nyaman. Dan aku tak mampu mengatakan kepadanya, sungguh memutus begitu saja pembicaraan yang enak kemarin rasanya begitu berat. Aku mulai gelisah, sedikit-sedikit merubah posisi duduk begitu intensif untuk memberikan sinyal kepadanya untuk menutup pembicaraan hari itu. Syukurlah, hal ini bekerja begitu lambat 

-= Empathy is not telepathy =-

In some stages of a relationship it seems we’re so much in tune we can almost read each other’s minds. I think it’s possible to build this quality into a relationship. It means to become so connected, so open that we are able to read each other. It’s not telepathy but a quality of mutual empathy and understanding. 

Ini terjadi ketika aku dulu pernah punya pacar selama hampir empat tahun. Yang terjadi adalah kita saling memperhatikan perasaan masing-masing karena saking lama dan intensnya kita saling terbuka terhadap pemikiran masing-masing. Tapi apakah itu sebabnya? Atau hanya aku yang nyambung-nyambungin konsep diatas?whatever lah  

Nah kalo kita sekarang? Well, that way is on my own way. Somehow we still hope ;-)

Happy Couple

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers