Jumat, 28 Mei 2010

LKTI SEJAWA FILM SIM BEM UNS 2010

Atau terjemahan dalam bahasa orang pinter *Suer, awalnya aku kagak tahu singkatan itu artinya apa* adalah Lomba Karya Tulis Ilmiah se-Jawa Festival Ilmiah Mahasiswa Studi Ilmiah Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2010. Aku Alhamdulillah kemarin diumumkan menjadi salah satu dari 10 finalis yang karyanya wajib dipresentasikan di hadapan reviewer (info pengumumannnya finalisnya disini). Dari 217 karya tulis yang masuk ke panitia lomba, aku bersama tim-ku menempati peringkat 5, sebuah modal awal yang aku pikir bagus untuk dekat kepada juara karena penilaian tidak tergantung dari karya tulisnya saja tapi juga dari presentasi yang dipaparkan. Finalis yang maju presentasi berasal dari IPB, UNY (2 tim), UNDIP (3 tim), UI, UNIBRAW, STAIN Purwokerto, dan UNS. Setelah DegDegSer maju presentasi dan harus berjibaku menjawab pertanyaan-pertanyaan reviewer kemarin, akhirnya hari ini akan diumumkan siapa yang terbaik.

Keikutsertaanku mengikuti lomba karya tulis ini awalnya berniat untuk mengisi waktu setelah stress setelah ujian mid semester, mumpung belum banyak materi yang disampaikan. Kesempatan ini kugunakan untuk membuat karya tulis terlepas dari hingar bingarnya kuliah. Dari facebook group Forum Studi Teknik aku membaca ada sebuah lomba karya tulis yang diadakan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang bertemakan tentang kearifan lokal (local wisdom). Tema yang diangkat adalah “Peningkatan Kualitas Sumber Daya manusia Berbasis Kearifan Lokal untuk  menghadapi Era Globalisasi”. Kedengaran sama sekali tidak ada kaitannya dengan bidang ilmu yang aku tekuni sekarang, Teknik Kimia, tapi aku pikir tak ada salahnya mengikutinya karena memang waktunya cukup buat kami menyusun konsep dan karya tulisnya. Deadline pengumpulan karya tulisnya tanggal 15 Mei 2010 dan aku membaca pengumumannya itu tanggal 1 Mei 2010, artinya dua minggu kami harus berhasil menyusunnya.

Kalau konteksnya membicarakan kearifan lokal, banyak ide yang ingin aku sampaikan lewat karya tulis apalagi di kotaku sendiri, Solo, banyak menyimpan warisan kearifan yang bisa dijadikan materi dibanding Semarang yang menurutku nilai-nilai budayanya sudah tergerus oleh obsesinya untuk menjadi kota metropolitan.  Namun, diantara kearifan lokal yang aku tahu ada satu kearifan lokal yang menarikku, bukan di Solo tapi justru ada di Pulau Bali. Nyepi, banyak orang Jawa mungkin melihatnya tak lebih seperti hari libur atau tanggal merah. Tapi lain suasananya ketika kamu ada di Bali. Satu pulau serempak tenggelam dalam keheningan, kontemplasi, tanpa suara, tanpa listrik dan tanpa keluar kemana-mana.  Dan dari sana ternyata masyarakat Bali telah mengurangi emisi karbondioksida sebesar 20.000 ton, sebuah angka yang tidak sedikit. Kita tahu bahwa gas karbondioksida menjadi salah satu penyumbang besar adanya peningkatan suhu bumi dan dari global warming ini ada efek domino yang ditimbulkan disana dan ini tidak bagus untuk bumi (baca The Coming Global Storm atau nonton film The Day After Tomorrow).

Kembali ke konteks kearifan lokal Nyepi, bayangkan ini menjadi sebuah gerakan global dengan melepaskan aspek teologis dan mengambil esensinya untuk kepentingan ekologis. Kami tidak harus melakukan Nyepi seperti mereka, tapi yang dilakukan adalah selama beberapa jam tertentu untuk tidak menggunakan kendaraan, listrik, barang elektronik, intinya berhenti berasap. Dari konsep tersebut sebenarnya sudah ada kelompok pemerhati lingkungan di Bali yang menyuarakan ini, mereka menamakan gerakan ini adalah “World Silent Day”. Namun, sampai sekarang gerakan ini masih kurang masif dan mengglobal karena mungkin masih banyak tabrakan kepercayaan dari agama selain Hindu. Oleh karena itu dari permasalahan ini kami angkat dan kami coba memberi masukan.

Syukurlah ternyata karya tulis kami lolos menjadi finalis. Pengumuman finalis diumumkan tanggal 23 Mei lewat pesan singkat dan website. Kami diundang dan diwajibkan untuk mempresentasikan karya tulis kami di hadapan juri di Auditorium UNS tanggal 27 Mei. Cuma lima hari kami diberi waktu. Di grand final kami akui cukup kelabakan menjawab pertanyaan reviewer mengenai kemungkinan adanya “kepentingan” kelompok tertentu yang memanfaatkan gerakan ini untuk memberikan keuntungan kelompoknya. Sesi tanya jawab adalah momen yang paling membuatku berdebar-debar dan cukup membuat ciut nyali, meskipun aku berusaha keras untuk mengalihkan perasaan ini agar aku masih bisa jernih menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. But finally, we did.

Setelah acara presentasi malam harinya finalis diajak untuk jalan-jalan ke kota Solo menikmati wisata kuliner Galabo dan melihat wayang orang di Sriwedari. Akhirnya pengumuman juara dilakukan hari ini. Sayang, kami tidak bisa menjadi juara pada kompetisi ini. Juara pertama dipegang UI, juara kedua dan ketiga dari UNDIP (syukurlah ada dua wakil dari civitas kami yang menang). Walaupun kalah, tapi buat aku ini pengalaman berharga karena aku bertemuu dengan orang-orang yang pemikirannya sungguh tidak biasa.

Sepertinya tulisanku ini aku sambung lagi di posting selanjutnya. Cukup banyak pengalaman dan perasaan yang timbul setelah LKTI ini, dan nanti akan aku posting lagi. Sampai detik ini aku sangat bersyukur mendapat pengalaman emosi seperti ini dan aku berharap semangat ini akan terus ada dan membuatku terus berkarya. Buat teman-teman finalis, panitia terimakasih dan aku harap kita akan berjumpa lagi di kompetisi lainnya di tempat dan waktu yang spesial.

Amin.


Jumat, 21 Mei 2010

Lovely Balcony

Sudah tiga bulan kami anak-anak Melata menempati rumah kontrakan baru ini. Kami semua tinggal di lantai dua dimana rumah kontrakan ini sampai sekarang belum memiliki nomor. Spot bagus yang menjadi favoritku tepat berada di balik jendela kamarku ini ... balkon. Malam ini, dingin udara yang masuk melalui jendela telah membangunkan aku. Kututup jendela, samar terlihat kerlip lampu kota yang jauh dan kabut yang menghalangi pendaran sinar lampu. Kuputuskan untuk keluar kamar, dan duduk di balkon.

Malam terasa semakin tua, semakin dingin, dan semakin gelap. Kurasakan rindu datang meggoda bagi siapa yang malam ini sedang sendiri dan aku mulai takut dihangati rindu. Aku rindu kamu. Setengah cangkir minuman telah kuhabiskan, aku ingin kamu disini...di depanku...kita tersenyum dibalik cangkir yang kita minum lambat-lambat. Sederhana ya?! seperti penelusuran rumit tentang apa yang sebenarnya aku inginkan dan berakhir dengan suatu penjelasan sederhana...Aku hanya ingin kamu disini.

Oh entah kapan kamu mulai mengganggu di saat aku berpikir di malam-malamku. Hatiku meradang memikirkanmu ketika aku tahu kamulah yang mengisi hati ini. Kamu yang telah melengkapi sebagian hati yang sebelumnya pernah hilang. Kamulah yang menemaniku menata lagi kepingan yang sebelumnya tercecer hingga sempurna. Aku takkan meragukan khayalanku tentangmu selama hati ini membairkanmu ada didalamnya. Dingin malam kuat membuatku terjaga. Aku membayangkan lagi diriku ketika aku duduk di balkon ini, kamu berjalan melintas di bawah, betapa menyedihkan karena aku sendiri hanya bisa melihatmu pergi.

Aku tidak mengerti mengapa matamu itu bisa merangsangku membentuk bayangmu di otakku. Bisakah aku balik menghantuimu? Berklamuflase di dinding kamarmu dan mengintip di balik gantungan pakaianmu. Mengawasimu dengan satu kepasrahan bahwa tanganku tak bisa menyentuhmu. Hanya suara dan tatapku yang mampu menemanimu. Oh, aku masih tidak mengerti...Jika kamu bukan satu-satunya, mengapa kutempuh berjengkal-jengkal tanah jauhnya untuk menjemputmu? Jika kamu bukan satu-satunya, mengapa aku pernah memimpikan kamu menjadi istriku? Jika kamu bukan satu-satunya, mengapa namamu selalu menggema di kepalaku? Jika kamu bukan satu-satunya, mengapa aku sering mengandalkanmu? Jika kamu bukan satu-satunya, mengapa aku masih bertahan hingga saat ini?

Oh darling, i want to surround you with my arms. This night is never be the same without you. The night grow old and you are always looking so cold. For this time maybe i forget the real world that i knew but magically when i think of you i don’t rather sad. 

I miss you



Related Post:

Happy Couple

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers