Sabtu, 19 September 2009

At The End of Ramadhan

Sebenarnya sudah begitu terlambat membagi tulisan ini, tapi tak apalah mumpung Ramadhan masih menyisakan hari ini saja.Hehe...

Hari ini puasa kita yang terakhir. Lalu pertanyaan ini muncul, Sudahkan puasa Ramadhan tahun ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik? Sudah kelihatan hasilnya? Apa saja? Setiap orang punya jawaban tersendiri, termasuk aku sendiri.

Aku membuat analogi puasa satu bulan ini sebagai proyek pembangunan untuk membuat manusia taqwa. Kita cuma diberi waktu satu bulan mengerjakannya. Dan ini sudah hari ke-29, layaknya sebuah proyek, sudah kelihatan bentuk bangunannya atau malah sudah jadi tinggal finishingnya. Sebuah proyek yang gagal manakala pondasi bangunannya belum dibangun hingga sekarang atau parahnya sudah hari-hari terakhir seperti ini masih ngukur-ngukur tanah melulu, gak kerja-kerja. Sangat rugi besar dan bakalan bangkrut tuh pemilik proyek.

Lantas, ketika besok hari kemenangan itu tiba dan banyak sekali aku mendapatkan sms-sms yang berisi ucapan selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, semoga amal kita selama di bulan Ramadhan ini mendapat ridho Alloh, dan macam macam. Dan tanpa mengurangi nilai kemuliaan Idul Fitri dimana kita menjadi manusia yang kembali fitri, ada sesuatu yang salah tetapi menjadi kaprah di sekeliling kita.

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin. Ada yang menganggap bahwa arti dari bahasa arab diatas adalah mohon maaf lahir dan batin. Ini sudah salah kaprah.
Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal ‘aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”.



Ucapan ini begitu akrab di telinga kita ketika ucapan-ucapan tersebut hadir ketika kita bersilaturahim, di koran, spanduk, dll. Seakan ucapan selamat ini milik semua orang. Di mataku hal ini begitu absurd. Sama halnya ketika aku memakai baju jelek yang udah dipake bertahun-tahun dan seseorang menyelamatiku,

"Selamat ya baju baru, nih!".
Aku hanya tersenyum kecut sambil membatin,
"Baju Baru dari Ethiopia! Kayanya kamu harus memeriksakan matamu yang sakit itu deh."

Apakah semua orang berhasil membangun taqwa mereka selama Ramadhan ini? Of course, not. Proyeknya aja belum jadi, gimana gak ngerasa terhina ketika kita mendapat ucapan Minal Aidin Wal Faizin. Yeah, that is my point of view.

Mungkin lebih bijak kalau kita sama-sama mendoakan dengan mengucapkan, “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”. Karena disana terkandung pula sebuah do'a dan pengharapan bagi terkabulnya segala ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Ketika kita diberi ucapan seperti itu, lantas kita mengucapkan
Taqabbalallahu Ya Karim.

Bukan maksud untuk menggurui dan riya', tetapi di hari terakhir kita berpuasa ini semoga masih terus berinstropeksi diri dan jangan bereuforia terlalu berlebih alias lebay.com di hari idul Fitri besok.

P.S. :
“Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” ya teman-teman. Banyak khilaf dan salah yang aku lakukan.

0 comments:

Posting Komentar

Tolong, biarkan aku mencarimu...

Happy Couple

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers