Kamis, 13 Juni 2013

Strategi Berinvestasi di Reksa Dana Saham

Reksa Dana saham ibarat parcel yang berisi bermacam-macam saham. Ambil contoh reksa dana saham BNP Paribas Pesona Syariah dimana minimum 80% alokasi dana di saham-saham sesuai syariah dan maksimum 20% pada Islamic money-market instruments. Tabel berikut saya kutip dari situs Bloomberg mengenai pengalokasian dana di BNP Paribas Pesona Syariah per 31 Desember 2011.

Top Fund Holdings for BNP Paribas Pesona Syariah

Investasi saham tidak lepas dari kondisi pasar yang bisa bergairah (bullish), lesu (bearish) atau tidak bergerak secara signifikan (sideways). Kondisi pasar yang berubah-ubah terkadang membuat investor bertanya-tanya mengenai kapan saat yang tepat untuk membeli reksa dana. Strategi market timing merupakan strategi yang sulit untuk diterapkan dimana titik terendah dan tertinggi baru dapat diketahui apabila titik tersebut sudah terlewati.
Nah, dari hasil online learning umumnya terdapat 4 metode berinvestasi di reksa dana saham :
1. Lump-sum
Lump-sum berarti menginvestasikan seluruh dana di awal periode. Misal, kita menginvestasikan 1,2 juta rupiah dengan membeli reksa dana pada saat NAB Rp 1.000,-. Dengan asumsi tidak ada biaya pembelian, maka jumlah unit yang akan diperoleh adalah 1200 unit. (Rp 1.200.000,- dibagi NAB 1000/unit).

Bulan
Jumlah Investasi
NAB/unit
Jumlah UP
Januari Rp 1.200.000,- Rp 1.000,- 1200

Nilai investasi akan bergantung pada NAB pada saat itu. Misal pada bulan Desember NAB-nya 1.100, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp 1.320.000,- (1200 unit x Rp 1.100).
Kelebihan strategi ini adalah anda tidak dipusingkan dengan timing dan pengalokasian dana sudah ditanamkan di saat awal. Kekurangannya ketika membeli reksa dana saat pasar sedang mencapai puncak dimana anda mendapatkan reksa dana dengan harga per unitnya yang sudah tinggi. Jika pasar ternyata berbalik arah dan menurun, tentu anda akan merugi.

2. Constant Share (CS)
Constant share berarti anda menginvestasikan dana untuk membeli reksa dana dengan jumlah unit yang sama secara berkala. Besarnya dana yang dikeluarkan akan bervariasi tergantung NAB pada saat pembelian. Misalnya anda berencana berinvestasi tahun ini sebanyak 1200 unit reksa dana per tahun, jadi anda membaginya menjadi 100 unit per bulan. Besarnya dana yang anda keluarkan adalah sebesar unit penyertaan yang dibeli dikalikan dengan NAB per unit pada saat pembelian.
Bulan
Jumlah Pembelian UP
NAB
Jumlah Investasi
Januari 100 1100 Rp 110.000,-
Februari 100 1025 Rp 102.500,-
Maret 100 1050 Rp 105.000,-
April 100 1100 Rp 110.000,-
Mei 100 1100 Rp 110.000,-
Juni 100 1125 Rp 112.500,-
Juli 100 1120 Rp 112.000,-
Agustus 100 1100 Rp 110.000,-
September 100 1050 Rp 105.000,-
Oktober 100 900 Rp 90.000,-
November 100 1000 Rp 100.000,-
Desember 100 1025 Rp 102.500
Total 1200 Rp 1.269.500,-
Rata-rata 1.058,00

Nilai investasi yang akan diperoleh kemudian akan bergantung pada NAB per unit penyertaan pada saat itu. Jika pada bulan Desember NAB per unit reksa dana tersebut adalah 1.025, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp 1.230.000,- (1200 unit x Rp 1.025).

3. Dollar Cost Averaging (DCA)
Dollar Cost Averaging dilakukan dengan cara menginvestasikan dana dalam jumlah yang tetap secara berkala (semisal seminggu sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali) selama periode tertentu ( 5 tahun, 10 tahun, dst). Sebagai misal menginvestasikan Rp 100.000,- per bulan selama setahun. Strategi ini dilakukan dengan tidak memedulikan kondisi pasar atau perekonomian dalam kondisi krisis atau tidak, kondisi pasar yang sedang bullish atau bearish, anda tetap melakukan investasi reksa dana saham secara rutin.
Bulan
Jumlah Investasi
NAB
Jumlah UP
Akumulasi UP
Nilai Investasi
Januari Rp 100.000,- 1100 90,9091 90,9091 Rp 100.000,00
Februari Rp 100.000,- 1025 97,5610 188,4701 Rp 193.181,82
Maret Rp 100.000,- 9025 11,0803 199,5504 Rp 1.800.942,35
April Rp 100.000,- 1100 90,9091 290,4595 Rp 319.505,44
Mei Rp 100.000,- 900 111,1111 401,5706 Rp 361.413,54
Juni Rp 100.000,- 1125 88,8889 490,4595 Rp 551.766,93
Juli Rp 100.000,- 950 105,2632 595,7226 Rp 565.936,52
Agustus Rp 100.000,- 1100 90,9091 686,6317 Rp 755.294,91
September Rp 100.000,- 1050 95,2381 781,8698 Rp 820.963,33
Oktober Rp 100.000,- 900 111,1111 892,9809 Rp 803.682,85
November Rp 100.000,- 1000 100,0000 992,9809 Rp 992.980,94
Desember Rp 100.000,- 1025 97,5610 1090,5419 Rp 1.117.805,47
Total Rp 1.200.000,- Rp 1.269.500,- Rp 1.117.805,47
Rata-rata 1100,3704

Ini istilahnya simulasi aja ya, anda bisa melakukan simulasi anda sendiri berdasar aktual kondisi pasar saat ini. Tabel diatas berada pada kondisi fluktuatif, artinya ada kondisi pas bullish, pas bearish, dan pas sideways yang ditunjukkan dengan kenaikan dan penurunan NAB. Dari tabel tersebut, harga NAB per unit rata-rata yang diperoleh adalah Rp 1.100 dengan nilai investasi pada akhir periode setahun Rp 1.117.805,47

4. Value Averaging
Value averaging artinya menginvestasikan dana dalam jumlah tertentu secara berkala sehingga pertambahan nilai investasinya selalu tetap. Saat harga turun, anda membeli lebih banyak, dan sebaliknya saat harga naik, anda membeli lebih sedikit untuk menyesuaikan nilai investasi.
Misalnya anda menginvestasikan uang sebesar satu juta rupiah dan menginginkan investasi tersebut bertambah Rp 100.000,- setiap bulan. Setelah satu bulan, anda harus melihat nilai aktual investasi dan mencari tahu perbedaan antara nilai yang diinginkan dan nilai aktual. Jika nilai yang diinginkan lebih besar dari nilai aktual, maka anda perlu menambah investasi dengan membeli kembali reksa dana untuk menutup kekurangan tersebut. Jika semisal nilai investasi yang diinginkan adalah Rp 1.100.000,- tetapi saat itu hanya bernilai Rp 950.000,-, maka anda harus menambah investasi sebesar Rp 150.000,-.

Happy Investing! ^^,

0 comments:

Posting Komentar

Tolong, biarkan aku mencarimu...

Happy Couple

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers